Tahun Baru Imlek jadi festival yang kian raih popularitas di Kroasia
Semarak perayaan Tahun Baru Imlek merupakan salah satu fenomena budaya yang paling mencolok di seluruh dunia, demikian ...
Zagreb (ANTARA) - Semarak perayaan Tahun Baru Imlek merupakan salah satu fenomena budaya yang paling mencolok di seluruh dunia, demikian disampaikan seorang sinolog asal Kroasia, seraya menyoroti nilai-nilai kekeluargaan yang mengakar kuat pada festival tersebut dan pengaruh globalnya yang makin berkembang."Pengalaman ini sungguh menakjubkan. Kegembiraan terasa nyata pada hari-hari menjelang Tahun Baru karena stasiun kereta dan bandara dipenuhi oleh jutaan orang yang ingin berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Energinya luar biasa," kata Ivica Bakota kepada Xinhua dalam sebuah wawancara baru-baru ini.Sebagai seorang lektor di Capital Normal University di Beijing, China, Bakota telah tinggal lama di China sejak 2011. Dia mengatakan bahwa esensi dari Tahun Baru Imlek tidak hanya terletak pada perayaan dan kembang api.
"Tahun Baru Imlek adalah tentang reuni, tentang melakukan perjalanan jarak jauh hanya demi dapat berkumpul bersama orang-orang terkasih, tidak peduli betapa tidak nyamannya perjalanan tersebut, dan itulah yang membuat perayaan ini begitu luar biasa," ungkapnya.
Signifikansi Tahun Baru Imlek makin ditegaskan pada Desember lalu ketika Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memasukkan Festival Musim Semi, praktik sosial masyarakat China dalam perayaan tahun baru tradisional China, ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Pengakuan ini menyoroti kekayaan tradisi Festival Musim Semi dan peran festival tersebut dalam menyatukan masyarakat China melalui beragam ritual.
Bakota mengatakan bahwa penetapan UNESCO ini mencerminkan "vitalitas yang besar" dari budaya China dan menjadi bukti ketahanan peradaban China yang telah berkembang selama lebih dari 5.000 tahun.China kini memiliki 44 praktik atau elemen budaya yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Hal ini menjadikan China sebagai negara dengan jumlah praktik atau elemen budaya terbanyak di dunia dalam daftar tersebut.
Selain Tahun Baru Imlek, UNESCO telah mengakui beragam tradisi China, yang makin menegaskan signifikansi budaya dan peradaban China.
Bakota menyebutkan bahwa sekitar seperlima populasi dunia
merayakan Festival Musim Semi dengan berbagai cara, dan hampir
20 negara menjadikan Festival Musim Semi sebagai hari libur
resmi. Ini mencerminkan pengaruh global dari budaya China.
"Dapat dikatakan bahwa Tahun Baru Imlek telah menjadi festival baru yang dirayakan di seluruh dunia, dan saya rasa hal ini terutama disebabkan oleh pengaruh budaya China," ungkap Bakota.
Tahun Baru Imlek pada awalnya hanya dirayakan di China dan negara-negara tetangga China di Asia Timur.
Kini, festival itu telah merambah ke seluruh benua karena kian berkembangnya diaspora China. Kota-kota besar seperti Paris, London, Berlin dan New York telah mencantumkan Tahun Baru Imlek ke dalam kalender budaya mereka.
Bakota mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah
landmark ikonis Eropa, seperti Menara Eiffel di Paris,
diterangi cahaya merah untuk memeriahkan Festival Musim Semi
atau Tahun Baru Imlek.
Sementara itu, perayaan berskala besar di Pecinan London menarik ribuan partisipan. Bahkan di Kroasia, di mana komunitas China relatif sedikit, festival ini meraih popularitas dalam dua dekade terakhir.
Bakota menekankan bahwa ekspresi budaya China yang luas dan beragam, mulai dari kaligrafi kuno dan opera tradisional hingga adat istiadat rakyat yang unik, tak lekang oleh waktu.
"Pencantuman elemen-elemen ini ke dalam daftar UNESCO hanya menegaskan signifikansi global dari elemen-elemen tersebut," ujarnya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2025